Kampung Kurma

Monday, May 28, 2007

KISAH HADI SURYA MEMBANGUN ARMADA KAPAL TANKER

PROFILNo.49, Tahun IX, 12 September 2005

Bisnis si Penyuluh Ikan Asin

Kisah Hadi Surya membangun armada kapal tanker

Hadi Surya membangun Berlian Laju Tanker dari berdagang komoditas. Kendati kerap bertransaksi dengan dolar, Berlian tidak roboh oleh krismon tujuh tahun lalu. Sebaliknya, malah bisa menambah armada kapalnya. Besar di pesisir, akhirnya mendulang sukses dari bisnis kelautan. Banyak orang yang mengalami hal seperti itu, tapi sedikit yang bisa menjaga kejayaan. Salah satunya adalah pendiri Berlian Laju Tanker, Hadi Surya. Ia sangat familiar dengan kehidupan laut lantaran menghabiskan masa kecil di pesisir Madura. Orangtua Hadi adalah pedagang besar ikan asin. Dari merekalah, Hadi mengenal dunia bisnis. Pertama kali menjadi pengusaha, Hadi mencoba berdagang sendiri. Ia tidak bergelut dengan ikan asin, tapi hasil bumi seperti jagung, kedelai, gaplek, kopi, dan karet. Tak puas dengan pasar lokal, dia mencoba pasar ekspor. Belum cukup berdagang komoditas, Hadi juga mencoba berbisnis kayu. Bisnis inilah yang menuntunnya kembali ke laut yakni perkapalan. Awalnya, pada 1977 Hadi mendirikan PT Arpeni Pratama Ocean Line. "Waktu itu, tak gampang mendapatkan izin pelayaran," kenang Hadi. Arpeni mengantongi izin pelayaran khusus bulk carrier, seperti kayu gelondongan. Tahun 1981, pemerintah membuka kesempatan bagi pengusaha yang berminat dalam bidang angkutan barang cair. Hadi tak melewatkannya. Ia lantas mendirikan Bhaita Laju Tanker demi menjalankan usaha angkutan cair tersebut. "Dalam bahasa Sansekerta, bhaita berarti kapal," ujarnya. Modalnya adalah dua buah kapal berkapasitas 6.000 ton, seharga Rp 5,6 juta. "Saya masih ingat betul, karena itulah cikal bakal Berlian Laju Tanker," papar Hadi. Kedua kapal itu diberi nama Anjasmara dan Brotojoyo.Dengan Anjasmara dan Brotojoyo itulah Hadi melayani pengangkutan bahan baker minyak Pertamina. Sebagai pendatang baru, Berlian belum mendapat kontrak yang sifatnya carter jangka panjang. "Kami hanya mendapatkan kontrak dua tahun," terang Hadi. Baru setelah itu diadakan tender ulang. Setelah kontrak ulang, barulah Bhaita mendapat tender long term charter sampai tahun 2002 lalu. Kembar dengan bisnis saudara menteriBiarpun mendapat kontrak jangka panjang, sewa dari Pertamina kurang menguntungkan. Hadi mulai mencari celah lain, meski ia tetap ingin berbisnis pengangkutan benda cair. Berbarengan dengan itu, kebetulan banyak industri kimia mulai berpikir untuk menggunakan angkutan laut. Maka, tahun 1986 Hadi memulai bisnis angkutan kimia cair berbekal satu buah kapal tanker bekas. Sejak itu Bhaita punya dua bisnis: pengangkutan BBM dan kimia cair. Belakangan, tampak bahwa pilihan Hadi ini tepat karena kebutuhan kimia di mana pun tumbuh pesat. "Konsumsi produk kimia itu berkembang cepat," ujar ayah tiga anak ini. Sayang, nama Bhaita Laju Tanker tak kunjung mendapatkan pengesahan dari Departemen Kehakiman. Dari informasi yang diperoleh, nama Bhaita ternyata telah dipakai oleh perusahaan lain yang pemiliknya masih bersaudara dengan Menteri Kehakiman. "Ya, sampai mampus saya tidak bisa mendapatkan pengesahan itu," ujar Hadi. Wajar kalau Hadi kesal. Soalnya, simbol BLT telanjur terpampang di cerobong asap armadanya. Terpaksa Hadi mencari nama lain yang mempunyai awal huruf B untuk menggantikan Bhaita. Dari situlah ketemu sebutan Berlian. Pada 1988, bergantilah nama perusahaan pelayaran milik Hadi menjadi Berlian Laju Tanker. Kerja keras Hadi mengembangkan Berlian sebagai pengangkutan bahan kimia cair dan BBM mulai menampakkan hasilnya. Laba selalu mewarnai perjalanan Berlian di sekitar perairan Indonesia dan negara Asia lain. Dari keuntungan tersebut, Hadi membangun armada kapalnya. "Kalau ada keuntungan, gunakanlah untuk ekspansi. Jangan lantas foya-foya," ujar Hadi mantap. Sampai tahun 1989, Hadi telah memiliki empat kapal tanker, dua dipakai untuk membawa BBM, satu untuk kimia cair, dan satu lagi untuk angkutan gas elpiji. Justru tertolong oleh krismonKarena perkembangannya pesat, tahun 1990 Berlian bisa menawarkan sahamnya pada masyarakat. Ia menjadi perusahaan pelayaran nasional pertama yang menggelar initial public offering di Bursa Efek Jakarta. Aktivitas tersebut ternyata mengundang perhatian bank asing untuk memberi pinjaman kepada Berlian. Alhasil, "Kami jadi mengembangkan sayap dengan lebih cepat dan mudah," katanya. Bermodal penyertaan masyarakat, Berlian lantas membeli tiga kapal tanker dan satu kapal pengangkutan LPG. Di tengah pesatnya bisnis pelayaran Berlian, tiba-tiba ada badai krismon alias krisis moneter yang datang. Hadi bilang bahwa Berlian tak luput dari pukulan tersebut. "Banyak pencarter yang telat pembayarannya," tutur Hadi. Namun, mereka juga mendulang banyak laba, soalnya pencarter membayar mereka dengan dolar AS, sementara nilai tukar dolar terhadap rupiah meningkat tajam. Keuntungan ini segera digunakan sebagai modal tambahan. "Saat itulah kesempatan membangun kapal dengan harga yang relatif murah," cetus Hadi. Berkat krismon, Berlian malah bisa menambah jumlah armada. Sekarang, mereka mengoperasikan 51 kapal dengan awak lebih dari 1.300 orang. Jenis pengangkutannya pun beragam: ada BBM, bahan kimia cair, hingga gas baik LPG maupun LNG. Bahkan, kini mereka sedang membangun kapal-kapal lain yang berangsur-angsur akan selesai hingga tahun 2008. "Masih ada 10 kapal dalam pembangunan," terang Hadi yang kini sudah duduk di kursi Presiden Komisaris PT Berlian Laju Tanker. +++++Berkah Ikan AsinAroma garam yang kuat sangat akrab di hidung Hadi Surya. Maklum, ia melalui masa kecilnya di pesisir pantai. Bahkan, "Saya dulu adalah penyuluh ikan asin di Desa Sepuluh, Pesisir Madura," ucap Hadi yang asli Surabaya ini. Ceritanya, sekitar 1950-an Hadi yang masih SMA kerap melihat nelayan sedang menjemur ikan asin. Kebetulan, orang tua Hadi adalah juragan ikan asin. Lama-kelamaan, Hadi pun ikut turun tangan membantu dan memberi pengarahan kepada nelayan untuk memilah ikan yang mereka produksi sesuai dengan kualitasnya. "Mereka akan menyetor ikan asin pada orang tua saya untuk dikirim ke Bandung," jelasnya. Biarpun tumbuh bersama ikan asin, Hadi tidak tertarik bisnis ikan. Justru ia ingin berdagang komoditas hasil bumi. Nah, dari situlah ia lantas merintis bisnis pelayaran.+++++Terjun ke Sawah Setelah bertahun-tahun mendalami bisnis pelayaran, tahun 2002 Hadi Surya melepas jabatan Presiden Direktur Berlian Laju Tanker. Ia memang masih menjabat sebagai presiden komisaris, namun kesibukannya tidak lagi seperti dulu. Alih-alih mendekati laut, Hadi malah mengaku kembali ke sawah. Maklum, tiga tahun belakangan, Hadi menggarap proyek padi hibrida di 14 kabupaten di Jawa Timur. Proyek padi hibrida tersebut membuat Hadi merelakan simpanannya miliaran rupiah untuk modal. Ia juga mau kepanasan di tengah sawah demi memberikan penyuluhan kepada mereka. Semua dilakukan, lantaran dia merasa tersentuh ketika tahu kecilnya penghasilan petani di Indonesia. "Saya ingin membantu petani," ujarnya. Tentu saja, meski terjun ke sawah, Hadi tidak meninggalkan begitu saja semua bisnisnya yang lain, seperti bisnis kayu dan pertambangan. "Sampai sekarang masih ada. Semua yang ada itu tidak boleh dilepas," jelas Hadi serius.

3 comments:

Admin said...

jempol buat Pak Hadi, semoga semua perusahaan pelayaran Indonesia semakin maju, jadi ga perlu nyari kerja ke luar negri.. hehe kalo gaji pelaut dinaikin juga lebih oke...

JAYAVO said...

Orang kaya gini yang banyak dibutuhkan indonesia!

Hadi Surya said...

wah luar biasa beliau , kebetulan nama saya juga Hadi Surya , dan kakek saya juga dulu pernah kerja di Berlian hehehehehehe